Membangun Karakter Siswa Melalui Budaya Lokal “Ngapak” di Era Digital

by

admin

Pendahuluan: Gempuran Digital dan Krisis Identitas Generasi Muda Kita saat ini hidup di era di mana batas antarnegara seolah memudar akibat penetrasi internet dan media sosial. Bagi siswa-siswi kita di Kabupaten Cilacap, yang termasuk dalam Generasi Z dan Generasi Alpha, akses informasi dari seluruh penjuru dunia berada tepat di ujung jari mereka. Mereka bisa dengan mudah meniru gaya hidup dari budaya pop Korea, tren gaya kebarat-baratan dari TikTok, hingga bahasa gaul ibu kota.

Namun, di balik kemajuan teknologi ini, ada satu ancaman yang nyata: krisis identitas dan lunturnya karakter lokal. Banyak siswa mulai merasa malu atau enggan menggunakan bahasa daerahnya sendiri karena dianggap kuno, “kampungan”, atau tidak keren. Padahal, pendidikan karakter sejatinya harus berakar kuat pada kearifan lokal tempat siswa itu tumbuh dan berkembang.

Bagi masyarakat Cilacap dan wilayah Banyumasan pada umumnya, kita memiliki harta karun tak ternilai: Budaya dan Dialek “Ngapak” (Panginyongan). Budaya Ngapak bukan sekadar cara berbicara dengan logat yang khas, melainkan sebuah manifestasi dari nilai-nilai filosofis luhur yang sangat relevan untuk membentuk karakter siswa yang tangguh, jujur, dan berintegritas di era digital ini. Melalui tulisan di Komunitas Guru Menulis Cilacap (KGUM) ini, mari kita bedah bagaimana budaya lokal dapat menjadi perisai dan fondasi pendidikan karakter di sekolah.


Menggali Filosofi Luhur di Balik Budaya “Ngapak”

Banyak orang dari luar daerah mungkin hanya mengenal Ngapak dari sisi lucunya saja, sering kali dijadikan bahan komedi di televisi. Namun, sebagai pendidik di Cilacap, kita harus memahami dan mengajarkan nilai filosofis sejati di balik budaya ini kepada anak didik kita.

1. Sifat Blakasuta (Jujur dan Apa Adanya) Karakteristik paling menonjol dari masyarakat Panginyongan adalah blakasuta, yang berarti berbicara terus terang, jujur, transparan, dan tidak suka berbasa-basi yang manipulatif (tidak munafik). Dalam konteks pendidikan karakter di era digital—di mana hoaks, pencitraan palsu di media sosial, dan penipuan online merajalela—nilai blakasuta ini sangat krusial. Guru dapat menanamkan nilai ini agar siswa berani berkata jujur, mengakui kesalahan, dan tampil apa adanya tanpa harus memalsukan identitas demi likes atau pujian di dunia maya.

2. Semangat Egalitarian (Kesetaraan) Berbeda dengan bahasa Jawa standar (Solo-Yogya) yang memiliki strata atau tingkatan bahasa (undak-usuk) yang sangat ketat (Ngoko, Krama, Krama Inggil), bahasa Ngapak jauh lebih cair dan demokratis. Ini mencerminkan sifat egalitarian masyarakat Cilacap yang memandang semua manusia setara, tanpa membedakan kasta atau status sosial secara kaku. Nilai ini sangat bagus untuk mengajarkan sikap anti-perundungan (anti-bullying), toleransi, dan menghargai perbedaan di lingkungan sekolah.

3. Karakter Bawor (Sederhana, Pekerja Keras, dan Kesatria) Dalam pewayangan gagrag Banyumasan, tokoh ikoniknya adalah Bawor (Bawor identik dengan Bagong di wilayah lain, namun memiliki penafsiran karakter tersendiri). Bawor digambarkan sebagai sosok yang gemuk, pendek, berwajah rakyat jelata, namun jujur, rajin bekerja, berani membela kebenaran, dan sangat mencintai keluarganya. Mengangkat sosok Bawor dalam narasi pembelajaran dapat mengajarkan siswa tentang pentingnya kerja keras, pantang menyerah, dan tidak menilai seseorang hanya dari penampilan fisiknya saja.


Tantangan Mendidik Karakter di Era Digital

Sebelum menerapkan strategi pembelajaran, guru perlu memetakan tantangan yang dihadapi anak-anak Cilacap saat ini:

  • Cyberbullying dan Etika Digital: Kebebasan di internet sering kali disalahgunakan untuk merundung teman sebaya. Kesopanan mulai luntur saat berlindung di balik akun anonim.

  • Kehilangan Empati Sosial: Terlalu asyik dengan gadget (gawai) membuat siswa terkadang kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Tegur sapa di jalan mulai digantikan dengan menunduk menatap layar.

  • Inferiority Complex (Rasa Rendah Diri) Budaya: Stigma bahwa “Ngapak itu ndeso” masih menghantui sebagian remaja. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa lu-gue atau bahasa campuran asing (keminggris) untuk terlihat modern.


Strategi Praktis Guru Mengintegrasikan Budaya Ngapak di Sekolah

Bagaimana cara kita sebagai guru di Cilacap melawan tantangan tersebut dan memanfaatkan budaya Ngapak sebagai alat pendidikan karakter? Berikut langkah-langkah konkret yang bisa diterapkan:

1. Menerapkan Hari Bahasa “Panginyongan” di Sekolah

Sekolah dapat menetapkan satu hari khusus dalam seminggu atau sebulan (misalnya setiap hari Kamis) sebagai “Dina Basa Panginyongan”. Pada hari tersebut, seluruh warga sekolah—mulai dari kepala sekolah, guru, staf, hingga siswa—dianjurkan berkomunikasi menggunakan bahasa Ngapak yang baik dan sopan.

  • Tujuan: Menumbuhkan rasa bangga dan mematahkan stigma bahwa bahasa daerah itu memalukan.

  • Dampak Karakter: Melatih kepercayaan diri siswa dan memperkuat ikatan emosional antarwarga sekolah.

2. Digitalisasi Budaya: Ngapak Go Internasional

Jangan larang anak bermain media sosial, tapi arahkan mereka untuk memproduksi konten positif. Guru bisa memberikan tugas membuat vlog, podcast, atau video TikTok/Reels pendek yang menceritakan wisata lokal Cilacap (seperti Teluk Penyu, Benteng Pendem, Kemit Forest) atau kuliner lokal (Mendoan, Tahu Masak) dengan menggunakan bahasa Ngapak atau subtitle Ngapak.

  • Tujuan: Mengawinkan kecakapan digital (keterampilan abad 21) dengan pelestarian budaya.

  • Dampak Karakter: Menstimulasi kreativitas, rasa cinta tanah air, dan kecakapan komunikasi publik.

3. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Bertema Kearifan Lokal

Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan luar biasa melalui P5. Guru di Cilacap bisa merancang proyek dengan tema “Kearifan Lokal” yang spesifik.

Contoh Proyek: “Eksplorasi Kesenian Ebeg/Kuda Lumping Cilacap”. Aktivitas: Siswa tidak hanya menonton, tetapi mewawancarai seniman lokal tentang filosofi gerakannya, bagaimana proses pembuatannya, hingga menggelar pementasan kecil. Dalam prosesnya, guru menyisipkan nilai gotong royong, disiplin, dan apresiasi seni.

4. Internalisasi Nilai Blakasuta dalam Asesmen Pembelajaran

Guru dapat membangun budaya kelas yang mengedepankan nilai kejujuran (blakasuta). Misalnya, menerapkan “Kantin Kejujuran” di sudut kelas, atau membiasakan siswa melakukan refleksi diri setelah ujian. Ajarkan mereka filosofi bahwa “Luwih apik biji elek merga usaha dhewe, tinimbang biji apik merga nurun” (Lebih baik nilai jelek karena usaha sendiri, daripada nilai bagus karena menyontek).

5. Memanfaatkan Sastra Lokal (Cerita Rakyat dan Geguritan)

Guru Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa dapat menggunakan cerita rakyat asli Cilacap dan sekitarnya (misal: Sejarah Adipati Donan, Legenda Pulau Nusakambangan, atau kisah Harianja) sebagai bahan literasi. Analisis karakter tokoh-tokohnya dan relevansinya dengan kehidupan siswa saat ini. Selain itu, dorong siswa untuk menulis puisi (geguritan) atau cerita pendek berbahasa Ngapak tentang kehidupan sehari-hari mereka.


Peran Sinergis Keluarga dan Komunitas

Pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan pada pundak guru dan sekolah. Keluarga adalah madrasah pertama. Sekolah perlu mengedukasi orang tua murid melalui forum parenting agar di rumah mereka tidak melarang anak berbahasa daerah. Banyak orang tua modern yang justru melarang anaknya berbahasa Jawa Ngapak karena takut anaknya kesulitan belajar Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Padahal, penelitian linguistik membuktikan bahwa anak yang menguasai bahasa ibu (bilingual/multilingual) memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik.

Di sinilah juga peran strategis Komunitas Guru Menulis Cilacap (KGUM). Anggota KGUM bisa mulai aktif menuliskan praktik-praktik baik tentang integrasi budaya lokal di kelas, menyusun modul ajar bermuatan lokal yang menarik, dan mempublikasikannya di website kgumcilacap.com agar bisa diakses dan diduplikasi oleh rekan-rekan guru di seluruh pelosok Cilacap.

Kesimpulan: Akar yang Kuat untuk Terbang Tinggi

Sebagai pendidik, tugas kita di era digital bukanlah mengurung siswa dari kemajuan zaman. Tugas kita adalah membekali mereka dengan “akar” yang kuat berupa identitas dan karakter lokal, serta “sayap” yang lebar berupa kompetensi digital dan literasi global.

Siswa yang berkarakter kuat adalah mereka yang fasih coding, mahir berbahasa Inggris, lincah menggunakan AI, namun tetap menundukkan kepala saat lewat di depan orang tua, selalu jujur (blakasuta) dalam bertindak, dan dengan bangga berkata, “Inyong bocah Cilacap, inyong bangga basa Ngapak!” Mari, rekan-rekan guru Cilacap, jadikan kearifan lokal bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan senjata utama kita dalam mendidik generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia.

Share it:

Tags

Related Post

Leave a Comment